⁠⁠⁠⁠⁠The Lippo Way ! Dibalik besar Lippo Group

Wednesday, July 12, 2017

⁠⁠⁠⁠⁠The Lippo Way !
By John.
"Senin sampai Jumat bohongi orang
Sabtu Minggu bohongi TUHAN".

Prakata
Mochtar Riady, James Riady dan Lippo Group nya,
adalah nama yang saya sangat kagumi. Seorang pria
terhormat, murah hati, kaya raya dan penginjil yang
disegani.
Saya ingat dulu, waktu dimana saya selalu mencoba
mendatangi dimana beliau memberikan ceramah. Saya
selalu penasaran akan rahasia sukses mereka. Saya
bertanya dan saya meneliti. Namun semua informasi
yang saya peroleh tidak pernah memuaskan saya.
Ambilah contoh pepatah terkenal dari Mochtar :
Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter
yang baik, Lian adalah kejujuran, sedangkan Dje adalah
memiliki rasa malu. Bagus, tapi tidak cukup untuk
membantu saya jadi sukses.
1 hal yang sedikit banyak ada manfaatnya adalah kata‐
kata    Mengejar dan menunggang kuda. Yang artinya
adalah menumpang pada orang yang lebih sukses untuk
mempercepat kesuksesan kita.
Contohnya adalah saat Mochtar memanfaatkan
kepercayaan om Liem (Liem Sioe Liong) untuk menjadi
kaya raya.
Tapi ini belum cukup. Sayapun terus berdoa agar
diberikan petunjuk, supaya bisa menjadi sukses seperti
Mochtar Riady. Seorang hamba Tuhan dan pengusaha
besar yang sangat sukses.

Hingga akhirnya, doa saya itu terjawab. Terjawab melalui
cara yang sama sekali tidak saya duga.
Lippo berbisnis dengan keluarga saya. Tepatnya om
saya.
Kami sangat exited mendengar kabar itu. Om juga tiap
hari membanggakannya pada kami. Saat akhirnya kami
diundang oleh James untuk bertemu dengannya, betapa
girang hati kami.
Helikopter, Rols Royce dan Bangunan yang megah
mempesona kami. Sesuai dengan gambaran kami
terhadap para Riady. Kami disambut hangat oleh James.
Dia orangnya ramah dan menyenangkan. Jadinya kami
mau saja diajak join bisnis.
Waktu berlalu dan kami kehilangan bisnis keluarga kami.
Bisnis yang dirintis susah payah oleh Opa. Semua diambil
Lippo tanpa kami sadari. Perlu waktu lama bagi kami
untuk menyadari kalau kami sudah dikerjai. Dikerjai
dengan sangat rapih tanpa melanggar hukum. CLEAR
AND CLEAN istilahnya.
Disanalah saya baru sadar seperti apa rupa Lippo yang
sesungguhnya. Tehnik bisnis dia yang sesungguhnya.
Dan jawaban yang saya cari selama ini, yaitu cara sukses
ala Lippo.
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya. saya
mengetahui tehnik bisnis yang begitu licin dan kejam.
Teknik ini terus ada di kepala saya selama bertahun‐
tahun, hingga saya tidak tahan lagi dan harus
menumpahkannya. Tapi tiap kali saya ingin mempraktekannya, hati nurani saya selalu
menghalanginya. Maka itu, saya putuskan untuk
menuliskannya dalam sebuah buku.
Karena tidak ada yang mau menerbitkannya, dan
ketakutan saya untuk menyebut nama asli saya disini,
maka biarlah pengetahuan ini saya bagikan secara
Cuma‐Cuma.

Daftar isi :
Bab 1. Cara kerja Bisnis Lippo
Bab 2. CARA HALUS
Bab 3. CARA KASAR
Bab 4. MENCURI ILMU
Bab 5. MUKA TEBAL
Bab 6. MANIPULASI SAHAM
Bab 7. SERANGAN GELAP
Bab 8. TUMBAL

BAB 1
Cara kerja Bisnis Lippo
Dulu saya pikir, Lippo itu adalah bisnisnya property dan
bank. Tapi setelah berbisnis dengan mereka, ternyata
semua itu hanya topeng.
Pada dasarnya, bisnis lippo dapat dibagi 2. Yaitu bisnis
normal dan bisnis manipulasi. Kedua bisnis ini saling
berkolaborasi satu sama lain. Bisnis normal akan
menjadi pembuka jalan, dan bisnis manipulatif akan
memanennya. Juga sebaliknya, bisnis manipulatif akan
membuka jalan bagi bisnis normal mereka.
Contoh :
Pada jaman jayanya Lippo Bank, adalah salah satu bank
besar yang sangat disegani di Indonesia dengan berbagai
produk kreatifnya. Tapi Bank ini memiliki sisi gelap,
karena digunakan oleh pemiliknya untuk merampas
bisnis orang lain.
Misalnya, jika anda adalah seorang pebisnis sukses yang
memiliki rekening di lippo dan memiliki perputaran
keuangann yang baik, maka anda akan langsung masuk
radar mereka.
Semua data anda akan dikumpulkan. Setelahnya anda
akan ditawarkan kredit, untuk memancing anda
membuka isi perut anda (rahasia bisnis). Setelah rahasia
anda terbongkar, Lippo akan membuat bisnis tiruan.

Setelah itu, supplier anda akan diajak untuk jangan
mensupply pada anda dengan iming‐iming kredit.
Demikian juga dengan pelanggan anda.
Akibatnya, bisnis anda akan tercekik dan mati. Saat
itulah dia datang sebagai pahlawan untuk membelinya.
Setelah dibeli, dia akan mengucurkan kredit besar untuk
bisnis ini, meluncurkannya ke pasar saham dan
mengambil untung besar dengan menggoreng
sahamnya.
Saham yang digoreng inipun nanti setelah harganya
mahal akan dia jual. Pas dia jual, harga akan jatuh ke titik
nadir. Setelahnya dia beli lagi dengan harga murah.
Begitu terus sampai minat masyarakat pada saham ini
hilang.
Berdasarkan contoh itu, dapat disimpulkan bahwa bisnis
Bank lippo adalah bisnis normal yang digunakan untuk
bisnis manipulatif, yang kemudian membuat lippo
memiliki bisnis normal hasil rampasan, yang
digunakannya lagi untuk menmanipulasi investor agar
berinvestasi padanya dan mencuri uang mereka.
Untuk melakukan ini, mereka memerlukan senjata. Apa
saja senjata itu?
Senjata Lippo
1. Koneksi Pemerintah
2. Citra yang baik
3. Pameran Kemewahan
4. Menjual mimpi
5. Network yang luas dan powerful
6. Serangan gelap
7. Tumbal
Analsisa :
Dalam contoh yang disebutkan sebelumnya, Lippobank
masuk dalam Network yang luas dan powerful. Melalui
bank itu, kita dapat memperoleh bocoran kekuatan
sasaran :
1. Bisnis apa mereka?
2. Perputaran rekening mereka
3. Kemana saja mereka mentransfer uang mereka?
4. Siapa supplier?
5. Siapa Customer?
Melalui Bank ini juga dia memperbesar networknya yang
powerful dengan mengetahui siapa supplier dan
customer anda. Secara diam‐diam mereka akan menjalin
relasi.
Setelahnya anda akan ditawari kredit. Ini masuk pada
bagian menjual mimpi. Dengan begitu anda akan
membiarkan diri anda digiring ke penjagalan, dengan
cara membuka rahasia bisnis anda.
Setelah itu dia akan memanfaatkan kembali networknya
yang sudah bertambah kuat itu untuk menekan anda
dan membuat bisnis anda bangkrut sebelum akhirnya
dia datang sebagai juru selamat.
Disini kita sudah membahas tentang nomor 4 (menjual
mimpi) dan no 5 (Network yang luas dan powerful). Lalu
bagaimana dengan 4 poin yang lain? mari kita bahas satu
per satu.

Koneksi pemerintah
Sepanjang kariernya, Mochtar Riady selalu berkoar kalau
dirinya tidak pernah memanfaatkan koneksinya di
pemerintahan untuk kepentingan pribadi. Terus terang
itu omong kosong besar.
Ini mengingatkan saya pada masa kecil saya. waktu itu,
jika tercium bau kentut biasanya pelakunya adalah dia
yang teriakannya paling besar untuk mencari tersangka.
Woiiii siapa yang kentut neh?
Seperti kata pepatah :
Orang baik tidak akan menyebut dirinya baik, orang kaya
tidak akan menyebut dirinya kaya. Mereka yang berlaku
demikian adalah orang yang tidak yakin akan kekayaan
mereka dan tidak yakin akan kebaikan mereka.
Lippo jelas memanfaatkan sekali koneksi pemerintahan
ini untuk berbagai kepentingan pribadi. Tapi memang,
cara kerjanya jauh lebih halus daripada orang
kebanyakan. Yang meminta proyek kemudian membagi‐
bagi jarahan dengan korupsi.
Yaitu :
1. Membuat agar pemerintah tutup mata terhadap
model bisnis mereka yang tidak etis. Ini terkait
dengan cerita jebakan bank yang kita sempat bahas
sebelumnya. Kenapa praktek yang sudah terendus
umum ini bisa terus berjalan tanpa tindakan
pemerintah? Konon karena pihak terkait adalah
orangnya dia.
2. Mendorong agar pemerintah mengesahkan aturan
yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk
mengumpulkan kekayaan atau menyingkirkan
pesaing
3. Mendapat bocoran akan informasi rahasia negara
4. Memanfaatkan aparatur negara untuk menghambat
mereka yang harus di hambat atau memuluskan
keinginan mereka.
Beberapa kejadian sejarah membuktikan ini :
1. Pada krisis moneter 1998, semua orang tahu kalau
Lippo adalah bank busuk. Namun dia berhasil lolos
dari pengambil alihan oleh negara antara 1997‐1998
2. Pada saat pemerintah mengumumkan rekap. Yang
mana pemerintah bersedia mensubsidi bank‐bank
sakit dengan mengeluarkan surat utang negara.
Lippo tiba‐tiba saja menjadi bank sakit dan menjadi
bank swasta pertama yang menerima dana rekap
lebih dari 6 trilyun rupiah
3. Saat ekonomi pulih, Sebuah konsorsium asing yang
aneh tiba‐tiba saja membeli bank lippo dengan
harga Cuma 1 trilyun.
4. Dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dukungan Lippo terhadap Jokowi baru‐
baru ini? tentu saja tidak gratis.
Lippo memiliki jaringan rumah sakit siloam yang sangat
luas. Sebuah tantangan tersendiri jika ingin membuatnya
tetap bernafas. Maka itu Lippo memerlukan jaminan
pemasukan yang diperolehnya dari BPJS.
Tapi jika sampai disana, bukanlah lippo namanya. Dalam
beberapa desas desus yang berhasil saya telusuri, Lippo
konon meminta posisi bagi orangnya untuk ditempatkan
di kementrian kesehatan atau dinas kesehatan (saya
tidak ingat). Alasananya sangat masuk akal, yaitu karena
banyaknya pejabat Indonesia yang tidak benar maka
beresiko pencairan BPJS untuk Siloam di hambat.
Jokowi katanya sih tidak menaruh curiga dan langsung
menyetujuinya. Nah disini dia memanfaatkan posisinya
untuk menunda atau menghambat pembayaran BPJS
dari rumah sakit lain yang jadi sasarannya. Dengan
dicekiknya pembayaran BPJS, rumah sakit itu akan
kesulitan cash flow dan akhirnya dapat dia beli dengan
murah.
Cara diatas itu berhasil beberapa kali, tapi katanya sih
tidak selalu berhasil. Alasannya karena bukan Cuma dia
saja yang menyusupkan orangnya di dinas kesehatan.
Kisah tentang Siloam ini sebenarnya lebih rumit lagi, dan
digunakan untuk tujuan yang lebih mengerikan oleh
grup lippo. Tapi untuk sementara cukuplah sampai disnii.
Saya akan ceritakan lagi perihal ini di bab yang
selanjutnya.
Citra yang baik

Lippo bisa terus mencelakakan banyak orang, tidak lain
dan tidak bukan adalah karena dia berhasil membuat
orang lengah melalui citra baik yang dia bangun.
Citra sebagai seorang Kristen yang taat
Citra sebagai seorang misionaris
Menjadi pendeta
Membangun gereja
Lulusan Teologi
Membangun sekolah
Membangun rumah sakit
Citra sebagai pebisnis yang memiliki pandangan jauh
kedepan dan ahli dalam mengelola bisnis
Dan yang terakhir adalah menulis buku yang isinya puji
pujian pada dirinya sendiri.
Jaman dahulu saat orang masih terbuai oleh citra ini,
setiap kali Lippo go public orang akan berbondong‐
bondong membelinya. Harganyapun dia goreng sampai
10 kali lipat, hanya untuk dihancurkannya kemudian dan
dibelinya dengan harga lebih murah.
Detil akal‐akalan ini akan saya bahas kemudian di bab
lain.
Pameran Kemewahan
Satu lagi cara Lippo untuk mebius lawan‐lawannya. Dia
akan dengan royal mentraktir anda dengan Rols Roys,
Helikopter, Gedung‐gedung megah, dan makanan enak,
disertai puji‐pujian oleh karyawan pada bos mereka,
untuk membuat anda rendah diri atau lengah.
Setelah lengah dan rendah diri, anda akan dengan
mudah digiring untuk menanda tangani perjanjian yang
berat sebelah sebelum akhirnya dimakan olehnya.
Detil tentang hal ini juga akan saya bahas di bab‐bab
berikutnya.
Serangan gelap
Adalah cara untuk menyingkirkan penghalang ataupun
potensi musuh oleh Lippo.
Tidak semua orang bisa dengan mudah dia kelabui. Ada
orang‐orang yang dengan gigih melawan mereka. pada
orang‐orang ini, Lippo tidak segan‐segan melenyapkan
mereka dengan serangan gelap. Serangan gelap ini
seringkali bertujuan untuk membunuh.
Ya, anda tidak salah baca. Ini sungguh serangan gelap
untuk menyingkirkan lawan dengan cara membunuhnya.
Ini adalah poin yang mungkin bagi pembaca sangat sulit
untuk di percaya. Namun saya mengalaminya sendiri.
Om saya meninggal tidak wajar, dan tidak hanya om
saya. Ada sederet nama yang meninggal setelah bisnis
dengan kelompok ini.
Sama seperti sebelumnya, detail mengenai hal ini  akan
saya bahas di bab‐bab selanjutnya.

Tumbal
Adalah cara Lippo untuk lepas dari tanggung jawab atas
perbuatannya.
Ada kalanya Lippo berhasil disudutkan karena satu dua
hal. Jika ini terjadi dia tidak akan mau menerima
tanggung jawab dan lebih suka menggunakan tumbal.
Contoh paling nyata adalah saat Lippo tertangkap tangan
KPK melakukan suap urusan first media yang sempat
heboh beberapa tahun lalu. Tak ada keluarga Lippo yang
tertangkap, dan pelakunya dengan sukarela menjadikan
dirinya tumbal.
Ada juga permainan good cop bad cop yang dimainkan
ayah dan anak Riady (Mochtar dan James). Dimana
Mochtar memainkan peran baik dan James
menumbalkan diri sebagai peran antagonis yang jahat.
Kedua peran ini akan menjadi penyeimbang grup Lippo,
agar namanya tidak jadi jelek.
Buktinya?
Gampang saja. Lihat 100 orang terkaya di Indonesia. Ada
yang namanya James Riady ? Sama sekali tidak ada. yang
ada adalah Mochtar Riady. Artinya, rampasan James
senantiasa diserahkan ke bapaknya. Tapi secara
menjijikan, si bapak ini terus menampilkan muka tak
berdosa.
Urusan tumbal menumbal ini terlalu sederhana jika
contohnya adalah kasus itu. Masih banyak lagi. Lebih
detilnya ijinkan saya bahas di bab yang lain.

Cara‐cara Lippo
Dengan bermodalkan 7 senjata yang disebutkan
sebelumnya, Lippo memanfaatkannya untuk
melaksanakan niatnya dengan modus operandi sebagai
berikut :
1. Cara halus
2. Cara kasar
3. Mencuri Ilmu
4. Bertebal muka
5. Manipulasi saham
6. Serangan Gelap
7. Tumbal
Yang kesemuanya ini akan dirinci pada bab‐bab
berikutnya.
Catatan : apa yang saya tuliskan ini ada yang masuk akal
sampai perbuatan yang sangat tidak masuk akal dan
diluar nalar. Maka itu, untuk memahami cara‐cara
konglomerat ini beroperasi, bukalah pikiran anda
selebar‐lebarnya untuk menerima hal baru.
 
BAB 2
CARA HALUS
Inti dari cara ini adalah dengan menggiring anda untuk
secara sukarela menyerahkan perusahaan atau aset
property anda pada group Lippo secara sah.
Kok Mau ?
Karena anda sudah mengagguminya, anda percaya
padanya, dan anda rendah diri di hadapannya.  Ada juga
masanya dimana anda terpaksa melakukan deal ini
dengannya. Kalau sudah begitu, apapun yang dia
sodorkan anda akan patuh saja
Tapi semuanya itu sudah disetting.
Kasus Kemang Village
Ceritanya, pemilik Kemang Village, ibu Maria Korompis si
pemilik tanah raksasa di Kemang itu mau jual tanahnya.
Ibu Maria di dekati oleh seorang antek kepercayaan
James (Biasanya Eddy Sindoro). Menurut sumber yang
saya dengar, si Eddy ini adalah orang yang bisa
berbohong sambil menatap tulus mata anda. Jadinya,
banyak sekali orang tertipu olehnya.
Dikatakan kalau James si bos besar sudah tertarik
dengan tanah si ibu, dan meminta si ibu untuk datang
menghadap si bos. Siapa bosnya? Itu tuh, si James Riady
dari Lippo. Konon, si ibu kegirangan sekali
mendengarnya (sama seperti waktu om saya deal
dengan lippo)

Pada hari H, ibu Maria dan keluarganya dilarang
menggunakan mobil sendiri, tapi dijemput dengan Rolls
Royce dari Lippo, oleh Eddy Sindoro yang notabene
adalah tangan kanan bos besar. Sepanjang jalan, si ibu
mendengar tangan kanan bos ini memuja‐muji
kehebatan bosnya.
Memasuki kawasan Karawaci, si Eddy semakin menjadi
memuja‐muji bosnya. Dia tunjuk sana sini. Tidak hanya
kemampuan bosnya dalam mengelola bisnis dan
membangun gedung‐gedung mewah, tapi juga iman
kristiani si bos.
Mobil masuk ke kompleks Taman Golf Karawaci, yang
merupakan pemukiman paling elite disini. Si Eddy
menunjuk ke kanan dan kiri sambil menyebutkan nama
orang‐orang hebat yang tinggal di kompleks itu. Mobil
melaju terus menuju gerbang yang lebih megah dan di
jaga ketat. Setelahnya melaju menyebrangi jembatan
menuju ke sebuah pulau dengan pemandangan yang
asri, dimana berdiri rumah paling megah di kawasan ini.
Rumah ini luas dan beratap tinggi tapi tidak terlalu
banyak pernak pernik. Didalamnya terkesan kosong dan
luas, namun tetap mempertahankan kemegahannya.
Saat mereka masuk kedalam, si bos besar ceritanya
belum pulang. Para tamu diantar ke ruang khusus untuk
dijamu dengan hidangan‐hidangan mewah. Sementara
itu, si Eddy terus saja melantunkan puji‐pujian setinggi
langit perihal keluarga Riady.
Barulah, setelah si ibu mulai memuji‐muji si bos. Si bos
tiba‐tiba datang. Bukan dengan cara masuk yang sama,
tapi melalui helikopter yang sengaja lewat di depan para
tamu. Si bos akan turun dengan penuh gaya mendekati
para tamu. Si Eddy akan bangkit dan menyambut sang
bos, menyalaminya, kemudian memperkenalkan tamu
mereka. Si bos menatap si ibu dengan ramah, dan
menyalaminya.
Jika anda adalah tamu itu, kira‐kira apa yang anda
rasakan?
Saya dan keluarga, yang pernah menerima perlakuan
serupa tentu saja ciut nyali. Kita merasa kecil
dibandingkan yang mulia James Riady (JR). Rasanya,
demikian jugalah yang dirasakan oleh Maria Korompis
(MK)
JR : Ibu, Maria tanah ibu bagus sekali, sayang sekali
dijual. Tanah di Jakarta sudah langka sekali loh bu.
Apalagi yang sebesar ibu punya
MK : yah, bagaimana ya. Saya tidak bisa urus tanahnya.
Biaya makin mahal. Umur saya sudah tua. Mau nikmatin
aja.
JR : Wah ibu salah sekali. Ibu harus pikirkan juga anak
cucu ibu. Begini aja, tanah ibu kan senilai 1 Trilyun ya.
Saya bayar ibu 100 Milyard, sisanya ayo kita bangun
apartment, mall dan office building. Saya akan invest lagi
500 Milyard, sisanya kita akan ambil loan dari dana REITS
yang bunganya Cuma 5%, jauh dari bunga bank sekarang
yang 14%. Perkiraan saya, nanti kalau sudah jadi, aset ini
nilainya tidak hanya 1 Trilyun, tapi akan menjadi 1
milyard dollar. Ibu akan dapat 1 Trilyun yang ibu mau,
dan sisanya adalah passive income untuk ibu dan
keturunan ibu sampai selamanya.

Singkat cerita, si ibu Maria ini terbuai dan menyetujui
menanda tangani kerja sama dengan Lippo.
Dengan kondisi terkagum‐kagum dan percaya seperti ini,
kalaupun anda disodorkan perjanjian dengan kata‐kata
menjebak, seringkali kita mengabaikannya. Kalaupun
kita sadar, kita akan mengabaikannya juga. Karena kita
yakin Riady yang terkenal sangat saleh itu tidak mungkin
berkhianat pada kita.
Yang terjadi kemudian adalah ibu Maria dan keluarganya
kehilangan seluruh tanahnya. Bagaimana bisa ?
Yang pertama adalah tentang bunga 5%. Benarkah itu?
ya secara legal memang Cuma 5%. Tapi mungkin yang
anda bayarkan lebih dari 100%
Loh?
Iya, karena kontraktor dari dia, bahan dari dia, arsitek
dari dia, karyawan dari dia, semua‐mua dari dia dan kita
tidak tahu berapa kali lipat dia mark up.
Selain itu, penjualan juga sengaja dia perlambat.
Akibatnya, perusahaan kesulitan cashflow dan terpaksa
disita. Setelah disita, dia akan beli kembali dengan harga
murah, dengan menggunakan keuntungan hasil mark up
yang kemarin. Dengan kata lain, uangnya hanya pindah
dari kantong kanan ke kantong kiri.
Tapi kenapa keluarga Korompis tidak melakukan
perlawanan?

Pertama, secara hukum mereka jelas sudah kalah.
Kedua, umumnya korban Riady ini dibuat sedemikian
rupa mentalnya, hingga mereka tidak mampu melawan.
Bagaimana caranya? Saya akan bahas detail di bab‐bab
berikutnya.
Kasus tanah lain yang mirip
Selain kasus model keluarga Korompis ini, ada juga kasus
yang setengah jadi.
Bagaimana itu?
Yaitu, tanahnya dikuasai dulu, kemudian mereka akan
membuat rencana bangun, kemudian membuat tiang
pancang. Setelahnya mereka tinggalkan begitu saja.
Saat anda protes, dengan santai mereka akan menjawab
“Belum waktunya. Ekonomi belum bagus”
Anda mau protes? Ehhh tidak bisa, karena anda telah
menanda tangani perjanjian yang tidak memungkinkan
anda untuk memutuskan hubungan dengannya. Apalagi,
dia sudah invest sejumlah uang untuk tiang pancang,
yang artinya adanya pengerjaan di tanah tersebut.
Ada saran untuk mengatasi jebakan ini, yaitu
memaksakan untuk memasukan pasal terminasi atau
pembatalan jika pembangunan terlambat.
Tapi jarang sekali yang mampu melakukan itu. Kalaupun
pasal itu berhasil dimasukan, seringkali para korban
tidak mampu mengeksekusinya.

Kenapa? Baca terus buku ini dan anda akan tahu sendiri
jawabannya. Ini yang terjadi pada paman saya yang
berusaha melawan mereka.
Kasus Matahari Dept Store
Sekarang, mari kita bahas pencapaian terbesar grup
Lippo. “Perampasan Matahari Putra Prima”
Kenapa saya sebut pencapaian terbesar? Karena saat
buku ini ditulis, 80% penghasilan resmi grup ini adalah
dari Matahari Putra Prima yang dirampasnya dari Pak
Hari Darmawan.
Pada tahun 1990an, bisnis Department Store yang
dirintis pak Hari Darmawan telah tumbuh sebagai toko
retail pakaian terbesar di Indonesia.
Seperti yang pernah saya sebutkan di bab 1 buku ini
tentang bagaimana bank Lippo menjebak nasabahnya,
maka Matahari Department Store segera masuk
kedalam radar pemangsa dari Lippo.
Beruntung bagi Hari Darmawan. Dia telah membangun
bisnisnya sedemikian rupa hingga sulit untuk diambil
paksa dengan cara‐cara kuno.
Tapi Pak Hari memiliki beberapa kelemahan :
1. Dia dan keluarga Riady berasahabat baik, bahkan
sama‐sama satu gereja dalam Jemaat Stephen Tong
2. Dia merasa berhutang budi pada Mochtar Riady,
karena pernah mendapat bantuan pendanaan di
awal kariernya untuk mengembangkan Matahari
Departement Store
3. Dia sangat mengaggumi Mochtar Riady sebagai
pebisnis jenius
Maka itu James merancang suatu jebakan :
1. Dia terus memuja muji kehebatan Matahari Putra
Prima dan membuat Hari Darmawan menjadi besar
kepala
2. Dia memanfaatkan kepemilikannya atas bank Lippo
dan persahabatannya pada Pak Hari, untuk
menyatakan dukungannya pada pertumbuhan grup
Matahari.
Singkat cerita, Matahari grup berekspansi besar besaran
dengan dukungan kucuran dana massive dari Lippo.
Kesempatan itu datang, saat James mendapat bocoran
dari mata‐mata nya di bursa efek Jakarta, yang
mengatakan bahwa Matahari Putra Prima berencana
melakukan right issue untuk menutup hutang‐hutangnya
yang membengkak karena membuka terlalu banyak toko
di seluruh Indonesia. Berita ini di konfirmasi juga oleh
Roy Tirtaji dari Lippo Bank yang ditugasi khusus memata‐
matai Matahari.
Konon, James segera menyuap banyak bank dan
investment bank untuk menjegal langkah right issue dari
Matahari.
Pertama, dia menghancurkan harga saham matahari
melalui short sell di pasar saham secara massive. Kedua
dia menyuap banker untuk mencekik aliran pinjaman
pada matahari. Yang ketiga adalah dengan menyebar isu
kebangkrutan dan kerugian dari Matahari untuk
menakuti mereka yang berminat membeli saham
Matahari.
Hasilnya tepat seperti yang James inginkan. Pak Hari
Darmawan segera saja tercekik hutang. Kemanapun dia
minta tolong tidak ada yang bersedia memberinya
bantuan.
Saat Pak Hari Darmawan mencoba bertahan, tiba‐tiba
istrinya katanya sakit keras hingga menguras
perhatiannya. Pak Hari jadi semakin tertekan dan stress
Hingga akhirnya dia meminta tolong pada James. James
yang cerdik bersedia membeli Matahari Departemen
Store. Tapi dia tidak membayarnya dengan uang
melainkan dengan dengan saham‐saham perusahaannya
yang lain.
JR :  Pak Hari, you tidak usah kuatir. You fokus saja pada
urusan keluarga. Biar bisnis ini saya yang urus. You
duduk tenang dan terima deviden yang jadi bagian you.
Kepada James yang tampak mulia itu, yang rajin kegereja
itu, anak dari bankir legendaris Mochtar Riady itu dan
dijuluki sebagai pebisnis muda berbakat itu, Pak Hari
Darmawan menyerahkan Matahari Putra Prima untuk
ditukar dengan tumpukan saham milik grup lippo yang
sudah digorengnya setinggi langit.
Dan seperti yang sudah bisa ditebak. Pak Hari kehilangan
segalanya, karena saham yang dimiliki pak Hari besoknya
langsung terjun bebas tidak bernilai. Pak Hari yang kelilit
hutang terpaksa menjualnya dengan harga murah, dan
dengan senang hati dibeli kembali oleh James.
Kasus ini sempat heboh di akhir 90an, namun berita ini
terkubur oleh berita Krisis Ekonomi yang melanda
Indonesia. Konon Pak Hari Darmawan sempat
menantang James berkelahi, tapi dilerai oleh pendeta
Stephen Tong.
Kisah ini cukup terkenal dikalang pengusaha waktu itu,
dan dapat di konfirmasi ke banyak sumber.
Sayangnya saya tidak bisa menemui pak Hari untuk
mengkonfirmasi kisah itu. Walaupun mungkin saya ragu
beliau mau bicara. Karena satu dua hal, yang konon
salah satunya adalah karena beliau sudah memasrahkan
dirinya pada Tuhan.
Jika saja pak Hari baca buku ini, saya dengan tulus
mengucapkan prihatin.
Teknik pengambil alihan paksa lainnya
Ada teknik lain yang katanya menjadi favorite Lippo
dalam pengambilan paksa perusahaan. Sayang saya
tidak dapat mengkonfirmasi perusahaan apa saja yang
jadi korban. Walaupun begitu, banyak yang
menceritakan kisah ini. Maka itu saya masukan sebagai
satu referensi.
Anggaplah Mr.X seorang pebisnis yang ingin
membesarkan usahanya, dan dia melakukan perjanjian
pendanaan dengan keluarga Riady.

James akan memaksa anda untuk kerja keras
membesarkan terus usaha anda yang sebagai akibatnya
adalah perlunya modal semakin besar.
Pada saat kebutuhan modal itu muncul, kedua belah
pihak harus melakukan setor modal. Saat itu anda tidak
akan punya uang dan terpaksa menjual saham anda
padanya. Makin lama saham anda akan makin sedikit
hingga akhirnya sangat sedikit dan anda ditendang
keluar, kemudian saham anda akan dibeli murah.
JR : Saya mau ekspansi lagi. Kali ini kita perlu modal 10
M. Kamu sanggup setor berapa?
Anda : Saya Cuma punya 1 M hasil dari deviden kemarin.
JR : gapapa. Sisanya saya beli dari saham kamu
Berikutnya
JR : kita perlu setor modal lagi nih. Punya uang ga?
Anda : belum nih
JR : ya sudah saya beli saham anda lagi untuk tutupi
kekurangan modal
Hingga akhirnya saham anda tinggal sedikit. Diadakanlah
RUPS untuk mengganti anda dengan orangnya dia.
Kemudian perusahaan dipaksa bagi deviden untuk
menebus modal yang kemarin dia keluarkan. Saat
perusahaan makin sekarat dia akan paksa anda lepas
saham anda dengan harga murah padanya.

Untuk mengatasi tehnik ini, kita harus memaksa JR
bersedia mempertahankan porsi saham kita seiring
pertumbuhan. Dia akan menjamin ketersediaan modal,
sementara kita adalah tenaga ahlinya.
Inilah yang dilakukan oleh Johanes Oentoro (JO), si
pendiri UPH.
JO : Pak James, ok saya bersedia mengembangkan bisnis
ini dengan anda. Anda sebagai pemodal dan saya
sebagai expert. Tapi saya tidak mau saham saya terus
berkurang. Saya mau saham saya dipertahankan terus
30%, tidak perduli berapapun modal yang anda suntikan
nantinya.
JR : Wah mana bisa begitu. Tidak fair dong.
JO : Makanya, ekspansi kita harus benar kita pikirkan
dengan cermat. Kalau anda tidak setuju tidak apa, anda
bisa cari yang lain.
JR : ya ya ya, ga papa. Biasanya saya tidak akan mau deal
tidak fair seperti ini. Tapi karena ini adalah paK Johannes
saya ok. Tapi ingat ya ini hanya dengan anda saja.
Johannes Oentoro merasa pintar berhasil menaklukan
seorang James Riady. Tapi sayangnya dia puas terlalu
cepat. Dia lupa kata pepatah yang mengatakan bahwa
tidak ada satupun perjanjian yang dapat melindungi
anda dari orang yang berniat mencurangi anda.
Saat bisnis UPH menjadi sangat besar dan JR memiliki
semua ilmu yang dia perlukan untuk menjalankan bisnis
ini sendiri, JO dilenyapkan dan sahamnya diambil alih
dari keluarganya.
Tentang bagaimana caranya, anda akan tahu nanti.
Maka itu, selalu ingat untuk tidak pernah lengah.

BAB 3
CARA KASAR
Cara kasar biasanya mereka lakukan jika cara halus
gagal. Inti dari cara ini adalah dengan menantang anda
berkonfrontasi langsung atau langsung menyerang anda
dengan brutal, dengan mengeksploitasi semua
kelemahan anda.
Super Mall Karawaci
Mall ini, lepas dari tangannya tak lama setelah
kerusuhan hebat yang melanda Indonesia pada 14‐15
Mei 1998. Pada waktu itu, mall di jantung Lippo
Karawaci ini disita BPPN sebagai kompensasi atas
hutang‐hutang Lippo yang menumpuk.
Menjelang krisis moneter mulai berakhir, mall ini ditebus
oleh David Salim dari BPPN. Negara yang saat itu sedang
perlu uang dengan senang hati melepaskannya dengan
harga murah. Konon, James dan Mochtar marah karena
merasa asetnya dicuri daripadanya (padahal dia sendiri
yang bikin bangkrut). James berusaha membeli balik
namun tidak dijual.
Sebagai balasan, dia membangun mall yang lebih mewah
disampingnya dengan tujuan untuk membuat
saingannya bangkrut. Lebih jauh lagi, dia juga
membangun apartment tinggi yang berhadapan dengan
apartment yang ada di kompleks super mall dengan
tujuan menghalangi view mereka akan padang golf yang
asri. Maksudnya supaya para penghuninya memprotes
Salim karena janji marketing dari apartment itu adalah
golf view.

Cara kekanak‐kanakan, tapi jangan anggap enteng.
Karena sering kali ini dilakukan bukan atas perhitungan
bisnis, tapi atas kepuasan ego.
Lippo Carita
Lippo Carita adalah kisah kegagalan grup Lippo. Karena
resort yang katanya akan jadi salah satu yang paling
sukses di Asia ini tidak laku dengan ratusan apartment
tidak terjual, akhirnya menjadi kumuh dan harganya
tidak naik‐naik bahkan jauh setelah melewati krisis
moneter yang berhasil mendongkrak harga properti
puluhan kali lipat.
Harga yang tidak naik‐naik itu diperburuk dengan aksi
korporasi Lippo yang mengobral sisa apartment yang
ada dengan harga separuh harga pasar, hingga
hancurlah harga Lippo Carita. Para pembeli lama marah
besar atas aksi ini, namun tidak dapat berbuat apa‐apa.
Bertahun‐tahun berlalu, munculah indikasi kalau daerah
carita akan bangkit kembali. Para investor kakap mulai
memasukan uangnya. Saat itu menyesalah grup Lippo.
Supaya tidak kalah langkah, dia menyebarkan orang‐
orangnya untuk membeli kembali lippo carita dari
tangan pemilik lama. Tapi konon tak ada yang sudi
menjualnya pada Lippo, maka itu mulailah dia main
kasar :
1. Menutup kolam renang, dengan alasan bahwa
sertifikat kolam renang beda dan bukan milik dari
Resort
2. Saat poin no 1 gagal, dia bertindak lebih jauh dengan
mematikan air
3. Sementara itu para orang JR berkeliaran dengan
tugas merayu pemilik untuk menjual.
Diperlakukan begitu, perhimpunan penghuni marah dan
bersatu melakukan tuntutan hukum. Melihat penghuni
dapat bersatu, Lippo segera menghidupkan kembali
asupan air.
Terlepas dari cepatnya dia mundur, ini mengindikasikan
kalau dia tidak segan‐segan melakukan segala cara untuk
mencapai apa yang dia inginkan. Jika saja para penghuni
tidak bersatu, maka dapat dipastikan dia akan
melakukan aksi yang semakin kasar.
Supplier Grup Lippo
Salah satu cara lain memaksimalkan keuntungan yang
dipelopori Lippo adalah dengan tidak membayar
supplier. Kalau pun terpaksa bayar, bayarlah semurah
mungkin dan jangan dalam bentuk uang.
Jurus yang satu ini sangat terkenal di tahun 90an dan
banyak yang menirunya. Semua kontraktor dan supplier
grup Lippo umumnya dibayar dengan barang. Itupun
kebanyakan bukan yang kualitas baik.
Salah satu yang mereka pelopori dan akhirnya menjadi
populer adalah dengan tidak membayar kontraktor.
Semua kontraktor Lippo dibayar dengan menggunakan
rumah yang mereka bangun sendiri. Bukan dengan uang.
Itupun bukan dengan harga diskon, tapi dengan harga
pasar yang sudah di mark up sekian kali lipat.

Perhatikan klausul perjanjian anda. biasanya ada kata‐
kata intinya sebagai berikut : Anda akan dibayar sekian
dalam waktu sebulan setelah pekerjaan anda terbukti
baik. Jika gagal bayar, maka anda berhak menyita aset
perusahaan senilai sama dengan hutang anda.
Nah, klausul ini biasanya digunakan untuk mencari‐cari
kesalahan anda, mengulur pembayaran, bahkan
meminta diskon lagi dari harga yang sudah disepakati.
Setelah semua poin dipenuhi, itupun pembayaran akan
terus diulur dengan berbagai alasan. Yang paling sering
adalah bos sedang tidak di tempat, atau bos tidak suka
desainnya. Sampai akhirnya anda akan dibayar dengan
rumah.
Praktek ini banyak ditiru, bahkan kini menjadi lazim
diantara perusahaan raksasa. Kenapa para kontraktor
akhirnya menerima? Karena dalam banyak kasus, harga
property nya naik dan si kontraktor tidak sampai habis
benar.
Salah satu kasus ngemplang supplier terbesar mereka
adalah kasus Great river garment
Great River Garment
Great river adalah salah satu perusahaan garment
terbesar di Indonesia, didirikan oleh Sukanta Tanujaya.
Seorang konglomerat yang membangun kekaisaran
bisnisnya dari nol. Bermula dari sebuah toko kecil di
kawasan glodok.

Terlepas dari ukurannya yang sangat besar ini, Great
River memiliki kelemahan besar, yaitu : client utama
mereka adalah Matahari Department Store.
Matahari Dept Store saat itu sudah dirampas oleh Lippo.
Dan melalui data yang dia miliki, James sudah tahu betul
berapa besar penjualan dari Great River kepada
Matahari Dept Store.
Konon, James mendekati Sukanta untuk membeli Great
River dengan harga murah yang tentu saja langsung di
tolak oleh Sukanta.
James marah dan memerintahkan Matahari Dept Store
menghentikan pembayaran kepada Great River. Great
River akhirnya kesulitan cashflow, hingga tidak mampu
membayar obligasinya yang jatuh tempo, bahkan gagal
membayar gaji karyawan dan akhirnya mendatangkan
gelombang demonstrasi yang besar.
Setahun lebih menagih tanpa hasil, akhirnya Great River
melaporkan hal ini kepada Bapepam.
Tapi aneh, Bapepam bukannya memeriksa Matahari,
mereka malah mengaudit Great River. Dari sana
ditemukan sekitar 100 milyard dana yang tidak dapat
dipertanggung jawabkan.
Sunyoto Tanujaya anak dari Sukanta Tanujaya malah
dijadikan tersangka.
Karena ketakutan, Sunyoto melarikan diri ke Singapore.
Disana dia meminta tolong pada Nikko Sekuritas, selaku
32
penjamin emisi dari Great River. Nikko setuju
membailout Great River.
Usai di bail out, Great River memutus kontrak dengan
Matahari, dan memulai kontrak baru dengan Victoria
Secrets.
Itupun tidak berjalan lancar. Banyak sabotase yang
menghantui perjalanan bisnis mereka.    Salah satu yang
membuat manajemen baru mengelus dada adalah
seringnya ditemukannya ular di kantor direksi.
Suara Pembaharuan
Nah, kali ini adalah sebuah kisah dari kehebatan seorang
Riady untuk memanfaatkan loop hole dari hukum
dengan sangat baik sekali. Bahkan para pakar hukum
korporasi yang mendegar kisah ini hanya bisa melongo
tidak percaya.
Diharapkan setelah membaca kisah ini, pembaca
semakin hati‐hati sekali dalam mengurus kontrak bisnis.
Kisah ini adalah kisah pengambil alihan Suara
Pembaharuan oleh Berita Satu milik Lippo.
Suara pembaharuan adalah bisnis rintisan keluarga
Soedarjo. Keluarga Soedarjo adalah penganut Kristiani
yang taat.
Pada suatu hari Pak Soedarjo sakit aneh dan tidak bisa
bangkit dari tempat tidurnya. Sakitnya semakin hari
semakin parah dan beliaupun akhirnya meninggal 8
bulan kemudian. Tak lama setelah kejadian itu, James
33
Riady mendekati keluarga Soedarjo untuk berinvestasi di
Suara Pembaharuan. Bagi James, ini adalah investasi
strategis yang penting untuk memoles citra mereka.
Konon, James juga sedang mempersiapkan John Riady
anaknya untuk  berkarir di politik.
Masuknya James ini mendapat tentangan keras dari
Sasongko Soedarjo. Salah satu anak dari bapak Soedarjo.
Dia sudah dengar kabar hitam tentang sepak terjang
Lippo, terutama kasus pengambil alihan matahari
department store. Dia tidak mau perusahaan warisan ini
bernasib sama. Tapi dia kalah suara oleh saudaranya
yang lain, yang sudah sangat memihak James.
Singkat cerita, sebuah harga diputuskan di angka Rp.40
Milyard untuk 40% saham.
Proses selanjutnya adalah sebagai berikut
1. Menuliskan perubahan akta perusahaan, berisi
masuknya Grup Lippo untuk membeli 40% saham
Suara Pembaharuan, dan memasukan beberapa
orang kunci dari Lippo dalam struktur dewan
komisaris dan dewan direksi dari Suara
Pembaharuan.
2. Surat ini di sahkan oleh notaris, kemudian dilaporkan
kepada department kehakiman.
3. Department kehakiman memberikan
persetujuannya, kemudian JR mentransfer uang
sebesar 2 Milyard
4. Sisanya katanya akan dibayar nanti
Bisa ditebak, sisa pembayaran tidak pernah dia
bayarkan. Dan setiap kali rapat direksi JR selalu
bertingkah seperti pemilik 100% perusahaan dengan
mengatur ini itu.
Peristiwa ini selalu memicu pertengkaran antara dirinya
dan Sasongko Soedarjo.
Makin hari, Sasongko semakin berani mendesak James
untuk memenuhi kewajibannya atau ditendang keluar.
Saat itulah James mengirimkan pembunuh gelap untuk
menyingkirkannya, dan membuat seolah kematiannya
karena sakit.
Selepas kematian Sasongko, perlahan‐lahan saham
keluarga Soedarjo beralih ke Lippo, dan kini mereka
tidak punya pengaruh apa‐apa lagi di perusahaan yang
dirintis ayah mereka itu.
Pertanyaannya adalah, kok bisa si JR yang Cuma setor
Rp. 2 milyard berlaku begitu? Logikanya kan dia sudah
ditendang keluar?
Rupanya inilah celah hukum yang ada di Indonesia. Jika :
1. Kehakiman sudah setuju akan perubahan akta
2. Sudah ada bukti transfer uang walaupun 1 rupiah
Maka perjanjian itu dianggap sah. Bagaimana uang yang
sisa? Itu dilaporkan sebagai hutang si pemegang saham
pada perusahaan. Tapi kedudukan JR sebagai pemegang
saham tidak lagi dapat di ganggu gugat.
Harusnya jika mau aman, kita sebaiknya tambahkan
kalusul pembatalan jika terjadi keterlambatan bayar.
35
Hypermart vs Carefour
Mungkin masih segar di ingatan kita, kalau di
pertengahan tahun 2000an, banyak gerai carefour
ditutup dan berganti menjadi Hypermart, sebelum
akhirnya berubah menjadi Carefour kembali.
Usut punya usut, rupanya ini dikarenakan Lippo ingin
mengembangkan Hypermart miliknya di lokasi
menguntungkan yang sudah jelas pangsa pasarnya dan
jelas untungnya. Dan lokasi itu jelas adalah lokasi milik
Carefour.
Untuk menjalankan aksinya, Lippo dengan seenaknya
menutup carefour (CF) yang beroperasi di jaringan mall
milik Lippo (LP).
LP : Mulai bulan depan, kontrak kalian tidak bisa
diperpanjang lagi.
CF : Mana boleh begitu, kontrak kita adalah 10 tahun. Ini
baru berjalan 5 tahun. Masih ada 5 tahun lagi
LP : Maaf, kami tidak pernah merasa menanda tangani
kontrak apapun dengan kalian. Itu adalah kontrak kalian
dengan pemilik lama. Kami adalah pemilik baru. Kontrak
tidak berlaku.
CF : Pak, anda ini ngerti hukum dan punya etika bisnis
tidak ? Di negara maju, kalau anda beli satu property
atau perusahaan, semua kontrak yang dibuat
perusahaan itu, baik oleh pemilik lama atau baru harus
dihormati.
36
LP : Maaf pak, ini Indonesia. kalau anda merasa benar,
silahkan tuntut kami.
Setelah itu, pintu masuk carefour di segel, listrik
dimatikan, jalan ditutup, dan semua barang‐barangnya
dikeluarkan dan ditelantarkan begitu saja.
Carefour menerima tantangan Lippo dan langsung
menuntutnya ke pengadilan. Tapi mereka kalah.
Kekalahan ini membuat Carefour yakin, kalau dia tidak
lagi bisa berbisnis di Indonesia. Coba bayangkan, kita
yang memilih lokasi, melakukan promosi, dan merintis
ini itu dari nol. Pada saat sudah maju, dengan seenaknya
kita diusir dan hasil kerja kita diteruskan orang lain.
Salah satu pejabat tinggi Carefour di masa itu yang
sempat saya wawancarai menceritakan lebih jauh pada
saya, kalau Lippo sudah membeli Polisi, DPR, OJK, BPK,
Kehakiman, bahkan tentara.
Pada kesempatan itu, pejabat itu sempat
mengungkapkan amarahnya :
“Sudahlah, negara ini tidak punya masa depan. Negara
para bangsat! Cuma bangsat yang bisa hidup disini! “
Sebagai akibat dari peristiwa itu, diumumkanlah kalau
Carefour akan menjual Carefour Indonesia. Para
konglomerat berlomba‐lomba melakukan penawaran,
dan pemenangnya adalah Chairul Tanjung dengan
Transcorp miliknya.

BAB 4
Mencuri Ilmu
Intinya adalah, jika JR menginginkan membuka satu
bidang bisnis baru yang menurutnya menguntungkan
tapi dia awam sekali terhadap bisnis itu, dia akan
mengajak bekerja sama seseorang yang menurutnya
ahli.
Orang ahli ini, akan dia paksa bekerja melebihi
kemampuannya. Otomatis orang ini akan mengerahkan
segala kemampuannya yang terbaik. Setelah semua ilmu
dia dapat, tenaga ahli itu akan dengan mudah ditendang
keluar, atau dihabisi.
Contoh paling bagus dari cara ini adalah apa yang terjadi
pada Johannes Oentoro dan UPH miliknya, yang sudah di
bahas sebelumnya. Ada juga cara melalui pinjaman
bank, yang juga sudah dibahas sebelumnya.
Tapi tentunya masih banyak contoh kasus lain yang bisa
jadi bahan pembelajaran.
Siloam Hospital
Untuk mendirikan rumah sakit ini, Lippo menggandeng
Gleneagles Hospital dari Singapore.
Seperti biasa, diawal kerja sama semua berjalan lancar.
Sampai pada suatu waktu, dimana Lippo sudah
menguasai semua ilmu yang dia butuhkan untuk
mengelola rumah sakit ini, maka mulailah lippo dan
komplotannya mencari‐cari kesalahan Gleneagles.
38
Melalui kesalahan‐kesalahan yang dicari‐cari ini, Lippo
dan komplotannya mengajukan komplain, menuntut
macam‐macam, dan akhirnya menolak membayar
kewajibannya pada Gleneagles.
Untuk mencari‐cari kesalahan ini, Lippo tidak segan‐
segan menyuruh anak buahnya melakukan sabotase
sadis yang konon menyebabkan pasien meninggal.
Dengan jatuhnya korban ini, maka makin kuat alasan
Lippo untuk perkarakan Gleneagles. Semakin hari makin
banyak saja hal yang dipermasalahkan.
Masalah inipun akhirnya dibawa ke pengadilan
internasional Singapore, dan berhasil dimenangkan oleh
Lippo.
Kok bisa?
Tentu bisa, karena Lippo sudah sejak awal
mempersiapkan dirinya untuk bersengketa dengan anda
di Singapore, bahkan sebelum perjanjian itu ditanda
tangani.
Dengan kata lain, saat Lippo menanda tangani perjanjian
dengan anda, dia sudah siap untuk bertarung dengan
anda di Singapore dan memastikan dirinya menang. Dia
sudah mempersiapkan celah hukum yang tersembunyi
dalam kata‐kata halus dalam surat perjanjian yang anda
tanda tangani. Dia sudah persiapkan pengacara untuk
melawan anda di Singapore. Dia sudah mengalokasikan
sejumlah uang untuk sengketa ini. Dia juga senantiasa
melengkapi dirinya dengan bukti‐bukti yang menguatkan
posisinya untuk menang melawan anda di pengadilan.

Hypermart
Sukses besar Walmart yang berhasil membawa Sam
Walton menjadi orang terkaya di dunia, mengusik jiwa
serakah dari Lippo. Mereka berpikir, Indonesia yang
penduduknya 200 juta lebih ini tentunya adalah potensi
yang bagus untuk mengembangkan tiruannya.
Namun, karena Lippo tidak tahu bagaimana mengelola
sebuah Hypermarket dengan ratusan ribu item, diapun
mengambil franchise dari Walmart.
Dengan mengandalkan reputasinya sebagai
konglomerat, pemilik bank, pengembang property besar
di Indonesia, dan koneksinya dengan Presiden Bill
Clinton, Lippo berhasi memperoleh lisensi dari Walmart,
dengan janji akan membuka gerai Walmart sebanyak‐
banyaknya di Indonesia.
Cabang pertama segera di buka di Lippo Karawaci. Tapi
hanya sebatas itu. Walmart pusat konon sempat protes
keras dan meminta Lippo memenuhi janjinya dalam
membuka cabang, namun ditolak Lippo secara halus
dengan berbagai macam dalih. Seperti keadaan ekonomi
yang belum baik, ataupun aturan pemerintah yang
belum mengakomodir adanya sebuah Hyper Market.
Diam‐diam Lippo memanggil banyak konsultan ahli dan
menyuruh mereka untuk membuat tiruan dari Walmart
dan menamainya Hypermart.
Sementara itu, Walmart tidak lagi bisa dibohongi. Karena
saat yang bersamaan, Carefour Indonesia sedang
tumbuh pesat dan membukukan penjualan yang tinggi.

Walmart kembali mendesak Lippo untuk membuka
cabang. Tapi kali ini karena ilmunya sudah dia kuasai,
maka Lippo sengaja mengajak ribut Walmart, dengan
mencari‐cari alasan untuk memutuskan hubungan bisnis
dengan sah.
Seperti kasus Gleneagles yang dibahas sebelumnya,
Lippo sudah sangat siap untuk berperkara di pengadilan.
Konon mereka menang mudah, dan semenjak itu nama
Hypermart berkibar sebagai pesaing utama Carefour.
Big TV
Kasus yang mirip dialami juga oleh Ananda Krisnan,
pemilik Astro dari Malaysia.
Konon kisah ini berawal dari kalahnya KableVision milik
Lippo saat bersaing dengan Indovision. Keunggulan
Indovision adalah kemudahan pemasangannya.
Indovision tidak memerlukan jaringan kabel optik yang
mahal seperti yang dimiliki Kablevision. Cukup pasang
antena dan langsung pelanggan bisa nonton.
Belajar dari kekalahan ini, JR berpikir untuk mencoba
model bisnis yang mirip dengan Indovision. Karena tidak
adanya pengalaman, maka digandenglah Astro dari
Malaysia.
Akhir ceritanya bisa ditebak. Yaitu setelah Lippo
menguasai ilmu yang dia perlukan maka dimulailah
dilakukan sabotase, dengan tujuan untuk memutuskan
kontrak dengan Astro.

Tapi karena kali ini lawannya adalah Ananda Krisnan
yang merupakan orang terkaya di Malaysia, maka
perlawanannya pun sengit. Astro konon hampir berhasil
mengalahkan Lippo. Orang‐orang banyak yang
berspekulasi kalau Lippo terkena batunya sekarang.
Tapi yang terjadi tidak seperti itu. Justru setelah
bersitegang dengan Lippo, Ananda Krisnan semakin
menurun, dan kini dia menghilang entah kemana.
Bagaimana bisa?
Tentunya pembaca masih ingat, kalau JR mampu
melakukan hal yang bahkan tidak mampu orang
bayangkan. Konon, JR mengirimkan pembunuh gelap
untuk menghabisi Ananda Krisnan.
Berita terakhir yang saya dengar, Ananda melarikan diri
ke Prancis. Semenjak itu dia tidak terdengar lagi
kabarnya. Pada waktu saya bertandang ke Malaysia
untuk mencari dia. Tidak ada satupun yang mengetahui
keberadaannya.

BAB 5
Muka Tebal
Saat orang kebanyakan memikirkan reputasi dalam
dunia bisnis. Tidak demikian dengan Lippo. Jika
momentum itu muncul, dan dia yakin kalau momentum
itu mungkin tidak terulang lagi, JR tidak akan segan‐
segan mengabaikan etika dan bertindak vulgar.
Gereja Stephen Tong
Pada suatu ketika JR dipanggil oleh Stephen Tong dan
dimarahi. Alasannya adalah karena adanya laporan
bahwa Lippo telah mengklaim bahwa Katedral Messias,
yang merupakan gereja besar di kemayoran yang
menjadi pusat Gereja Reformed Injili dibangun atas
sumbangan 100% dari Lippo. Padahal bangunan megah
itu dibangun atas prakarsa banyak sekali orang. Lippo
bahkan bukan penyumbang terbesarnya.
Lebih parah lagi, JR telah menyebar luaskan berita ini di
berbagai media di Amerika dan Australia yang akhirnya
berhasil mengangkat namanya dan Lippo.
JR berusaha keras berkelit dan membantah. Dia bahkan
rela bersumpah.
Konon, sepulangnya dari pertemuan dengan Pak Tong
(panggilan pendeta Stephen Tong), JR segera
memerintahkan untuk membeli semua media yang
memberitakan dirinya sebagai sponsor utama dari
Katedral Messias. Setelah itu dia menutup operasi media
itu setelah memusnahakn bukti beritanya.

BAB 6
MANIPULASI SAHAM
Sampai saat buku ini ditulis, sebagian besar konglomerat
yang saya temui bermimpi untuk menemukan satu bisnis
istimewa yang bisa mereka bawa ke public untuk
mengeruk uang banyak. Setelah itu mereka akan keruk
lebih banyak uang lagi melalui manipulasi saham atau
temukan bisnis baru untuk mereka bawa ke public lagi.
Dalam hal manipulasi saham ini, tidak ada yang lebih ahli
daripada Lippo (untuk Indonesia).
Ada 5 tahap dalam memanipulasi saham ini :
1. Pertama adalah menciptakan isu. Kalau perlu
manipulasi pembukuan.
2. Menggoreng Isu
3. Menggoreng harga saham dengan menyuap para
broker
4. Menjual saat tinggi
5. Saat harga jatuh beli kembali
Multipolar
Beberapa tahun lalu, Multipolar dengan kode saham
MLPL ini sempat mengguncang bursa dengan gonjang
ganjing harga saham. Dari saham mati yang di pantek
pada nilai 200 rupiah, melompat ke angka 1000,
kemudian kini kembali ke angka 200an lagi.
Permainan ini bisa ditilik ke tahun 2013, dimana MLPL
tiba‐tiba mengumumkan berbagai aksi korporasi dan
membukukan keuntungan yang sangat besar.

Pada saat yang bersamaan terdengar kabar bahwa
banyak investor asing berbondong‐bondong memborong
saham ini.
Harga segera meroket. Dari mulai 200an, naik ke 500an.
Spekulan lokal mulai terpancing untuk ikut. Tapi mereka
yang berpengalaman cenderung curiga dan menahan
diri.
Tapi harga terus naik sampai ke 700. Pemain ada yang
ambil untung, ada yang melipat gandakan taruhannya.
Mereka yang tadinya bertahan mulai banyak yang
menyesal dan mulai menginvestasikan uang mereka.
Angka terus naik ke level 800. Orang mulai yakin bahwa
ini sungguhan dan mulai merasa aman dengan investasi
mereka. Bagi mereka yang sempat take profit dengan
menjual saham mereka di angka 700 mulai menyesal,
dan banyak yang kembali melakukan pembelian saham,
bahkan mereka berani menggunakan margin trading
(pinjam uang untuk beli saham).
Harga sempat turun lagi ke level 400 dan membuat para
investor ketakutan. Tapi kemudian melompat lagi
sampai menyentuh level 1000. Para investor bersorak
sorai.
Tapi kemudian saham mulai menunjukan pelemahan.
Tapi itu tidak masalah, karena memang pasar saham
selalu naik turun. Esoknya naik lagi dan para investor
kembali bergembira.
Yang terjadi kemudian, harga terus turun. Walaupun
diiringi kenaikan sedikit, tapi lebih banyak turunnya.

Pada posisi yang menukik turun ini, mereka yang
bertransaksi menggunakan margin, mengalami apa yang
disebut margin call dan dipaksa jual oleh brokernya.
Akibatnya, harga menukik makin cepat dan tajam.
Memasuki awal pertengahan 2015, harga sempat
menyentuh level 200an, tapi kemudian naik lagi ke
500an. Pada saat buku ini dibuat, harga MLPL terpantek
di level awalnya. Yaitu 200an.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pertama, pada tahun 2013, Lippo (LP) melakukan aksi
korporasi dengan melaporkan keuntungan besar melalui
penjualan aset mereka. penjualan ini rencananya akan
digunakan untuk aksi korporasi lebih besar yang
perkiraannya berpotensi menikngkatkan ukuran
perusahaan sampai 10 kali lipat
Berita diatas, digoreng oleh beberapa kantor berita dan
gosip gosip yang sudah disuap oleh LP. Didukung oleh
puluhan broker saham (BS) yang disuap untuk membeli
saham MLPL.
Kesepakatannya biasanya seperti ini :
JR : Kalian akan saya kasih loan untuk beli saham MLPL
itu sendiri. Jika harga naik, kalian bisa kembalikan uang
saya berikut bunganya. Kalau harga turun dan jatuh,
saham MLPL kalian saya sita.
BS : OK, ga ada resikonya.

Praktek ini terus dilakukan sampai beberapa bulan.
Tujuannya supaya investor percaya dan berani bertaruh
besar pada MLPL. Dan ini tampaknya terbayar, dengan
saham MLPL yang melompat ke 800 rupiah di triwulan
pertama 2013.
Mencapai angka ini, JR yang sudah untung besar
melakukan penjualan besar‐besaran atas saham miliknya
yang disamarkan dalam nama‐nama palsu yang tersebar
di berbagai broker di seluruh dunia. Hargapun jatuh ke
level 400. Pada tahap ini, modal JR untuk goreng saham
sudah kembali dan memperoleh untung besar.
Keuntungan yang diperoleh ini, kembali
diinvestasikannya untuk membeli saham dengan harga
murah, aksi korporasi megah dan menggoreng berita.
Pada saat itu, berita yang digoreng adalah kerjasama
mereka dengan Mitsui sebuah perusahaan Zaibatsu
Jepang yang terkenal konservatif untuk membangun
data center.
Harga langsung melonjak signifikan sampai ke level 700
dalam waktu singkat. Angka ini digoreng terus sampai
mencapai 1100.
Begitu angka menyentuh 1100, JR langsung
memerintahkan menjual semua saham yang dia
kumpulkan di harga 400 secara besar‐besaran.
Sahampun jatuh ke level 200an. Level di awal 2013.
Banyak investor yang berinvestasi dengan margin
mengalami kerugian besar dan bangkrut. Konon ada
yang sampai bunuh diri.

Pada level 200an ini, JR melalui account‐account fiktif
miliknya kembali memerintahkan melakukan pembelian
secara bertahap. Sambil menunggu momentum besar
berikutnya.
Aksi macam ini, jika terjadi di Amerika, akan langsung
masuk pengawasan SEC. Di Indonesia sebenarnya ada
BEI dan OJK. Tapi LP selalu lolos dengan gemilang berkat
koneksinya yang baik.
 
BAB 7
SERANGAN GELAP
Akhirnya sampai juga ke bagian yang ditunggu‐tunggu.
Ini dan bab berikutnya mungkin adalah bagian yang
paling sulit dipercaya, maka itu saya tempatkan di bagian
akhir.
Keluarga Riady yang terkenal sangat saleh itu, tidak
segan‐segan menghabisi nyawa anda dan keluarga anda
dengan cara yang sangat halus, yaitu membuatnya jadi
seperti kecelakaan atau sakit biasa, jika anda atau
keluarga anda mereka anggap sebagai penghalang.
Sulit dipercaya? Sebelum saya ceritakan metode yang
mereka pakai, saya akan menunjukan daftar korban‐
korban yang berhasil saya lacak. Masih banyak lagi, tapi
dengan apa yang ditampilkan disini harusnya cukup
membuka wawasan anda.

Haji Hasjim Ning
Hasjim Ning adalah korban
paling awal yang berhasil saya
lacak.
Dia adalah pemilik dari BPI
(Bank Perniagaan Indonesia)
yang belakangan menjadi
bank Lippo, dan kini sudah
menjadi CIMB Niaga.
Beliau adalah orang kaya
lama yang memiliki banyak sekali aset yang tersebar di selururh Indonesia. Dia dibunuh agar asetnya dapat dikuasai Lippo. Konon asetnya inilah yang menjadi cikal bakal dari banyak bisnis property Lippo.

TO BE CONTINUED....

Read more...

Satanic Finance eBook

Sunday, April 9, 2017

Bacaan yang mudah dipahami mengenai sistem keuangan setan yang sudah mengakar hampir di seluruh lembaga keuangan dunia:

Read more...

Volvo Transmission Adaptation Procedure

Thursday, June 5, 2014

A Solution That Eliminates The Need For Costly Repair

Here is some reference information contained in a TSB regarding the Adaptive Transmission Procedure that the technicians employ.
A/T - AW55-50 Hard Shifts/Shift Flare
NO: 43-27
DATE: 1-22-2004
MODEL/YEAR:
MY 2001- S60, V70, V70 XC, XC90 2.5T
SUBJECT:
AW55-50 Adaptation Procedure
CHASSIS:
All
Reference:
For all other cars with the AW 55-50, please see TNN 43-20
THIS TNN SUPERCEDES THE PREVIOUS TNN 43-27 DATED 7-15-02. PLEASE UPDATE YOUR FILES. Updated for XC90 2.5T
DESCRIPTION:
The AW55-50 gearbox relies on adaptive data to properly adjust its shift pressure. This data is collected and memorized by the TCM and then used to adjust shift feel/quality. If the adaptation is not complete, it may result in: - Shift Flare: Engine RPM increases during a shift. This symptom often feels like the car has temporarily lost drive or the transmission is slipping. It is usually the 2-3 upshift that flares the most.
- Harsh Down Shifts: Harshness felt during a coast-down shift (zero throttle downshift).
- Harsh Garage Shifts: Harshness when shifting P-D, N-D, P-R, or N-R while at a standstill.
- Harsh Neutral Control Engagement/Disengagement: After coming to a complete stop in Drive, with your foot on the brake the TCM waits 2 seconds and then disengages drive to reduce emissions and minimize idle vibrations. This disengagement is normally smooth and isn't felt by the driver. If adaptation is not complete then a "thud" can be felt in the car 2 seconds after coming to a complete stop. When the brake pedal is released, the re-engagement of Drive should be relatively smooth. A harsh re-engagement can be felt if the adaptation is not complete. Neutral Control is present on all 2001 MY S60s and V70s. It is also present on non-turbo 2002 S60s and V70s produced before January 2002.
The TCM can sometimes take many miles to fully adapt. To assist in the process, a function called "Control Module Adaptation" has been included in VADIS. This mode is useful when the car is new, the gearbox, valve body or TCM have been replaced, or anytime you want to be sure that the transmission is fully adapted. The picture shows where to find the function. There is no need to "Reset the adaptation to zero", unless a piece of hardware, such as the valve body or gearbox has been replaced.
ADAPTATION MODE:
When you follow the procedure, you will first be directed to check which software version is in the TCM. This is because some cars need to be loaded with the latest software for the function to work (Please refer to TNN 43-24). Once you have checked the software, you will be directed to the procedure. After reading through the procedure and using VADIS to put the car into Adaptation Mode, you can begin the adaptive test drive.
When the transmission oil reaches 65̊Celsius (150̊F.) a text message will appear in the DIM to confirm that you are in Adaptation Mode. It will remain in this mode until the car is shut off. If the transmission oil temperature exceeds 110̊Celsius (230̊F.), Adaptation Mode will be suspended and the text message will disappear until the temperature comes down.
The transmission does not adapt while in Geartronic or Winter mode; do not use those modes at any point in this procedure. While the car is in Adaptation Mode the orange triangle in the center of the instrument cluster (DIM) will flash just after a "perfect shift". A perfect shift is one where the TCM has reached its adaptation target for that particular shift.
To adapt the Upshifts:
1. Use 'D' range. The TCM does not adapt while in Geartronic. From a standstill, accelerate lightly (about 1400 RPM) up to 4th gear. Keep the throttle steady during the acceleration. Come to a stop and repeat this maneuver until the orange triangle flashes after each of the three shifts. It may take several accelerations to complete this. You will not reach 5th gear at this small throttle opening.
2. Perform another steady acceleration, all the way up to 5th gear. This time use a higher throttle position (about 1800 RPM). Repeat the maneuver until you see the orange triangle flash after each of the four shifts. Remember to keep the throttle steady.
3. Again accelerate up to 5th gear from a standstill; this time at an even high throttle opening (about 2500 RPM). Repeat the maneuver until you see the orange triangle flash after each of the four shifts. Remember to keep the throttle steady.
NOTE: The TCM is continuously adapting. Not every shift will be a "perfect shift". For example, you will not see the triangle flash after every 1-2 shift. You only need to see it flash once for the 1-2 shift at each throttle opening to know that the adaptation has reached its target.
To adapt the Downshifts:
1. Use 'D' range. The TCM does not adapt in Geartronic. Drive along at about 45 MPH in 5th gear. Release the throttle and gently brake until you are at a standstill. Use very light pressure on the brake pedal.
2. Repeat this maneuver until the orange triangle flashes after each of the four downshifts. It will take several decelerations to adapt all of the shifts. If you are having difficulty, increase or decrease the pedal pressure you are using.
NOTE: The TCM is continuously adapting. Not every shift will be a "perfect shift". For example, you will not see the triangle flash after every 3-2 shift. You only need to see it flash once for the 3-2 shift during this maneuver to know that it has reached its target.
To adapt the Garage Shifts:
1. With the engine idling and your foot on the brake, shift to 'N'. Wait 5 seconds; shift to 'R'. Wait 5 seconds and shift back to 'N'. The adaptation has reached its target when the orange triangle flashes after you shift to 'R'. If the triangle flashes once, you do not need to see it every time after that. This is because the TCM is continuously adapting.
2. With the engine idling and your foot on the brake, shift to 'N'. Wait 5 seconds; shift to 'D'. Wait 5 seconds and shift back to 'N'. The adaptation has reached its target when the orange triangle flashes after you shift to 'D'. If the triangle flashes once, you do not need to see it every time after that. This is because the TCM is continuously adapting.
To adapt the Neutral Control:
NOTE: This only applies to certain cars. They are listed in the "Description" section of this document.
1. Drive along slowly (about 5 MPH) in 'D' range. Gently bring the car to a complete stop. Repeat this maneuver until the orange triangle flashes a few seconds after you stop the vehicle. This tells you that the Neutral Control engagement is adapted.
2. With the engine idling and your foot on the brake, shift to 'D' range. Wait about 25 seconds and you will see the orange triangle flash, telling you it is ready to adapt. After it has flashed, release the brake pedal and allow the car to crawl forward. Repeat this maneuver until the triangle flashes just after releasing the brake pedal. This tells you that the Neutral Control disengagement is adapted.
NOTE: The TCM is continuously adapting. Not every shift will be a "perfect shift". For example, you will not see the triangle flash every time you release the brake pedal. You only need to see it flash once to know that the neutral control adaptation has reached its target.
Once you have adapted the Upshifts, Downshifts, Garage Shifts and Neutral Control, the procedure is complete. When the ignition is switched off, the TCM automatically exits adaptation mode.

Read more...

Volvo S60 Transmission Problems

- flush your fluid every 20-30k miles. Volvo manual says don't do it, which has been proven to be wrong. If you haven't ever flushed and you're at or less than 60k, then flush now.
- use Mobil 3309 or Dexron IV for all s60s, takes anywhere from 8-10qts (avlube.com ~$50+shipping is best deal)
- use the radiator flush method not the drain pan drop method

- if you have more than 60k miles and you're asking if you should flush, you need to. But instead of using the radiator method, remove the drain plug on the bottom of tranny (19mm if I remember, and brass-colored) and that will drain about 4qts of the fluid. Fill up to correct marking
- if you don't flush your fluid ever, you're not "gambling" if your transmission will fail. You guarantee it. What's a gamble is if it happens today, tomorrow, or 6 years from now. 

- ALWAYS get the software updates. It's silly to say that you think the dealership is trying to screw you out of your warranty. one of the main reasons the tranny was so faulty was the many software issues the TCU had


If your transmission still flutters after doing all this there are 2 more known issues with the 2001-2004 transmissions:
1) B4 servo cover: this will cause flares shifting in/out of 3rd gear. It is a very simple, cheap fix. It's literally a cover with some o-rings that has been redesigned many many times. www.ipdusa.com has it for sale under s60/transmission/b4 servo
2) valve body solenoids: you basically have to remove the existing ones, clean it out, and replace with new ones. There's no fix for this. It comes down to the fact that some of the workings of the automatic transmission before MY2004 were sized too small, and clog up too easily (so flush your fluid frequently!)

My recommendations:
- do the b4 servo even if you don't need it if you have a MY2001-2004 s60
- flush your fluid every 15k with mobil 3309
- get a transmission cooler (quick, easy, cheap install)
- get a transmission temperature gauge (easy) and monitor your temperatures
- get the latest software

Read more...

A Complete Guide to S60 Transmission Shift Flares, Slipping or Missing Gears

Thursday, May 29, 2014

To avoid the information getting lost, I copied this guide from: http://volvoforums.com/forum/volvo-s60-10/complete-guide-s60-transmission-shift-flares-slipping-missing-gears-59684/


What is this?
This is an attempt at producing a complete, thorough guide to solving automatic transmission shifting problems on Volvo S60s, 2002-2009. It is intended to be a complete primer for anyone who only knows that problems exist and very little else. It is basically a compilation/summary of a large amount of knowledge dispersed online.

I hope people of all experience levels will find this useful. I broke it up into sections to allow you to quickly scan through the information. What you will find below was gained through this forum, other websites, notably ipdusa.com (an online Volvo parts dealer), and my own experience with a 2002 S60 T5 with 125,000 miles. 

I have very limited automotive knowledge, and I apologize in advance if I have misinterpreted or wrongly assumed anything.


Contents
1.0 The Problem
1.1 Shift Flares
2.0 Solution
2.1 Updated B4 Servo Cover
2.2 Transmission Flush
2.2.1 Function of Transmission Fluid
2.2.2 Problems with ATF
2.2.3 Assessing the Quality of ATF
2.2.4 Type of ATF to Use
2.3 Software Update
3.0 Procedure
3.1 Replacing the B4 Servo Cover
3.2 Performing the Transmission Flush
3.3 Performing the Software Update
3.3.1 TCM Update
3.3.2 Adaptation
3.3.3 Reset Oil Counter
4.0 Results and Conclusion
4.1 Thank You
4.2 Responses Welcome
5.0 Resources
5.1 Websites
5.2 Volvo Forums
1.0 The Problem
The common problems on the transmissions in the early year models seems to be "shift flares" and sometimes generally hard shifting. These happen when the transmission "misses" a shift or "slips" between gears. Most of the time shift flares occur when shifting between gears 2 and 3. 

The transmission in my T5 is an Aisin Warner AW55-50/51SN. It's the Volvo-branded "Geartronic" transmission.
1.1 Shift Flares
A shift flare occurs when the transmission shifts from one gear to another (usually between gears 2 to 3). Instead of shifting smoothly and seamlessly, the transmission is goes into "neutral" with no gear engaged. After a few seconds of delay, the next gear engages. This can be a frightening situation when unexpected. Your foot stays on the accelerator as you expect a smooth transition between gears. When a shift flare occurs, the engine revs high, since the car is essentially in neutral, so that once the next gear finally engages, it slams into gear hard, shuddering the car. This is apparently where most of the physical damage is likely to occur to the transmission. Shift flares occur randomly, although you may find some correlation between flaring and other events, or environmental factors such as temperature. In my personal experience, I noticed much more pronounced flares after going through a lot of stop-and-go traffic, when the lower gears are shifting up and down a lot.

2.0 Solution

There are three primary services you can perform to remedy these problems short of rebuilding or replacing the transmission altogether. They are substantially cheaper than a rebuild or replacement and are the main focus here, though you should take note of these solutions to prevent problems even if you haven't experienced any yet. In fact, prevention of these problems is ideal since it means there is likely no physical damage, which cannot be reversed by this process.

The three services are listed below. I consider them a "three-legged stool" with each one just as important as the others. They are listed in the order I performed them, but there isn't necessarily a specific order that needs to be followed. Ideally, they should be done around the same time.
  • Install updated B4 Servo Cover.
  • Perform a transmission flush or drain-and-fill.
  • Have the transmission software updated.
2.1 Updated B4 Servo Cover
In my personal experience, this is the single-most effective remedy to solving the shift flare problems. This section is somewhat limited as I lack a full understand of how the B4 servo cover works from a technical standpoint.
The B4 servo cover is literally a round piece of metal that is a cover for the B4 piston mechanism. A B4 servo cover is on automatic transmissions in 2001-2009 S60s. The problem lies in the design of the B4 servo cover. Early transmissions, like the Aisin Warner AW55-50/51SN in my 2002 S60 T5, apparently have the most problems. Generally, the later the year model, the less flawed the design of the B4 servo cover is likely to be. After problems started cropping up, Volvo learned, and they started redesigning the B4 servo cover. According to ipdusa.com, Volvo changed the design of the cover multiple times, presumably before coming to the optimal design. So, even if you don't have the oldest and presumably most flawed B4 servo cover, it still may not be the latest and greatest.ipdusa.com states that "the latest design is stock on later models" but doesn't specify which models exactly, later stating that 2004 and newer models "usually" aren't affected.

To the non-technical eye, there are only minor visible differences between an old B4 servo cover and the new one, and it can be hard to believe these changes would make any difference in the mechanical function of the transmission. However, I believe the cover has something to do with the hydrostatic pressure of the fluid inside the transmission that affects the shifting behavior. The ipdusa.com description of this product states, "It's ironic how this inexpensive part can save someone from a costly transmission replacement."
2.2 Transmission Flush
A transmission flush involves replacing all the old fluid in the transmission with new fluid. There are two types of transmission flushes. One I have read about online involves dropping the fluid pan--a real flush.

The other a drain-and-fill, the one I performed, is much simpler but less thorough. However, a drain-and-fill may be preferable to a full flush on transmissions that have been severely neglected. A flush can knock loose particles that damage moving parts when they circulate around with the fluid (according to IPD). A drain-and-fill is less likely to disturb those particles.

I have also read suggestions to install a magnetic filter in the transmission fluid line to capture metal particles from the fluid after doing a drain-and-fill. This sounds like a good idea, but I didn't do it.
2.2.1 Function of Transmission Fluid
Again, I lack deep technical knowledge of the inner workings of transmissions so I will only provide a simple explanation here. Automatic transmissionfluid (ATF) is a hydraulic fluid, meaning it is under pressure. It is also a lubricant which minimizes friction and wear on the moving parts within the transmission. 
2.2.2 Problems with ATF
For a variety of reasons the fluid degrades. As the fluid quality degrades, it becomes less and less effective at meeting the performance standards the transmission is designed for. Also, even with the fluid acting as a friction reducer, the moving parts inside the transmission wear on each other to a limited extent. Over time, small metal filings end up in the fluid and help to wear the parts even more quickly. Thus, it is essential to flush the ATF at regular intervals to prolong the life of the transmission. 
A major cause of ATF not being changed is that Volvo didn't (and may still not) recognize that the fluid needs to be changed, *ever*. Volvo owners manuals state that the fluid is lifetime. This has obviously not turned out to be the case. The dealer I went to for the software update, said they *do* recommend a flush every 50,000 miles.
2.2.3 Assessing the Quality of ATF
The quality can be roughly determined by checking the color and the smell of the fluid. The transmissions we are discussing use fluid that must meet JWS 3309 specification (see the next section). Fresh, new ATF has the color and viscosity of red cough syrup and has a slightly sweet smell. Essentially, the further your ATF varies from these properties, the worse its condition. For example, when I flushed mine, the old ATF was black (like soy sauce) and had an offensive, slightly burnt smell. Basically, it was on the opposite end of the scale from new ATF.
2.2.4 Type of ATF to Use
The fluid to use must meet the JWS 3309 specification. I ordered Mobil ATF 3309 from AV Lubricants (Petroliance) (Petroliance DBA AV Lubricants-Your ExxonMobil Oil Distributor!). The Mobil product is not the cheapest option (You can expect to pay about $7-$8 per quart, and you will need 12-14 quarts.). I have read about other people using a Toyota-branded ATF called T-IV that is the same thing as the Mobil and apparently quite a bit cheaper. There is also a Volvo branded ATF. It's the same stuff. Those are the primary options, not the only ones. Whatever you decide to use, just make use it meets the JWS 3309 specification.
2.3 Software Update

Another cause of the problems is related to the TCM (transmission control module), the computer that controls the transmission. Like the B4 servo cover, the software has undergone numerous changes.

The update is usually best done at a Volvo dealer since it requires the expensive Volvo VADIS system. There are probably good indie shops that can do the update as well. With the B4 servo cover update, IPD strongly recommends a software update. I also strongly recommend getting the TCM update. From my experience, it does make a big difference.

The shop can also do an adaptation procedure that makes the TCM to "relearn" how to shift and adapt to your driving style. It essentially involves clearing the stored adaptation memory and forcing the TCM to accumulate new data.

Lastly, they can also reset the ATF oil counter. I don't know what that does. It probably just lets the TCM know how old the fluid is.
3.0 Procedure
This section will focus on the "how-to". I won't provide step-by-step instructions for every procedure, but I will identify where you can find such instructions and add additional comments and tips based on my personal experience.

A friend with non-model/make-specific knowledge of vehicles and I, with very limited automotive knowledge, were able to replace the B4 servo cover and flush the transmission in about 6 hours total. We would have finished quite a bit sooner if we had known a few small tricks. You may choose to have this work done by a mechanic or the Volvo dealer. My hopes are that by passing on this knowledge you will feel more confident in doing these procedures and be able to do them more easily yourself. Especially if your budget is limited, doing the work yourself is very cost-effective. In total, I spent about $170 to change the B4 servo cover and flush the transmission.
3.1 Replacing the B4 Servo Cover
The B4 servo cover is a round metal cover located on the transmission housing. It is accessed by removing the driver side wheel. I ordered the new B4 servo cover kit from ipdusa.com for around $21. The parts came in a Volvo-branded box and came with well-explained instructions from IPD. The same instructions are available as PDFs on their website under the product description, so even if you don't buy the parts from IPD, you can still use their instructions. However, I will say that I was very pleased with IPD. They also provided a bolt that is essential for doing the work.

First, be prepared to and have the basic tools for removing a tire. Next, you'll need a special tool called a snap-ring pliers. I bought a cheapo $4 pair with interchangeable heads, and they worked fine. Simply follow the IPD instructions carefully, and you shouldn't have any problems.

However, one important note that the IPD instructions are missing is to remove the large plastic underbody cover underneath the engine. It is attached with 6 bolts and comes off easily. This may be obvious to more seasoned DIYers, but we struggled for more than an hour until we took the underbody cover off. Taking the cover off gave us better access to the work area, but most importantly, it allowed us to use a long pry bar to gain more leverage when installing the new B4 servo cover. Before we removed the cover, we struggled unsuccessfully to depress the new B4 servo cover using a regular-sized screwdriver (It was all that would fit with the underbody cover in place.).

After you get it installed, the last step of the instructions have you basically drive around to let the car "relearn" how to shift under the new conditions. Immediately I noticed a huge difference. Shift flares were eliminated and shifting was less harsh in general. The instructions said to expect a few driving cycles for the transmission to learn, but I didn't notice any "learning curve." However, a few days later, problems started cropping up again but much less significantly. 
3.2 Performing the Transmission Flush
I bought the flush kit from ipdusa.com. Using this kit doesn't perform a true flush, it's really a drain-and-fill. IPD provides good instructions instructions with the kit. People on this site have pointed out that it's way overpriced for what you get: a hose and a replacement o-rings and clip. That said, if you're new to this, like I am, I would suggest getting the kit so you know you have exactly what you need. It comes with a green plastic clip and a metal one. For the 2001-onwards S60s, you'll need the green plastic clip and have a extra o-ring. The metal clip is for older models. The instructions don't make that clear. Take note of how everything is put together when you take it apart and you won't have any problems.

The IPD flush kit costs about $23.

You will also need to purchase 12-14 quarts of ATF meeting the JWS 3309 specification. The 12 quarts of Mobil ATF was $87 from AV Lubrications. See section 2.2.4 above. I also ordered an additional 2 quarts from IPD--for good measure.
3.3 Performing the Software Update
The last and easiest step. Take the vehicle to a Volvo dealer service shop or a good indie shop and ask to have the TCM (transmission control module) software updated. It is separate from the normal software updates, which dealers usually perform automatically with regular maintenance. You have to ask (and pay) for the TCM update. I explained what I work I had done, and this is the service they recommended and did. The car stayed at the dealer 2 days, which wasn't bad because they provided a loaner car for free. The total cost was around $150 for the software work.
3.3.1 TCM Update
First, the dealer checked for a TCM (transmission control module) update, which it needed. They also checked for any "death codes" that might indicate the transmission was about to die imminently. Thank goodness that wasn't the case. I was told I would be better off putting my money into a replacement than the software update if they got the death code.
3.3.2 Adaptation
They also reset the adaptation memory. I have read different things about this procedure, and I don't know exactly what they did at the dealer. However, when I got it back, the service guy told me to drive it normally and that the TCM would adapt over the next 15 or so "key cycles." He said they cleared the adaptation memory and that the TCM would need to re-accumulate transmission data.

I specifically asked how I should be driving during the adaptation since I've read that you have to drive it slowly. The service guy said if you drive like a grandma, drive like a grandma, if you punch it at every intersection, punch it at every intersection. He explained that this is how the TCM adapts to your particular driving habits. During that time, I tried to do get a good cross-section of my usual driving habits, from fairly aggressive street driving to fast freeway driving to painfully slow creeping in rush-hour freeway traffic.
3.3.3 Reset Oil Counter
The third thing the dealer did was to reset the ATF oil counter since I told them I had changed drain-and-filled the transmission. I'm not exactly show what that does. It may let the computer know how old the fluid is. Nevertheless, it can't hurt.

4.0 Results and Conclusion

It's been 2 weeks since the B4 servo cover update and the drain-and-fill and 1 week since the software update on my 2002 S60 T5 with 125,000 miles. The overall improvement has been about 95% (100% being a complete reversal of all the symptoms). Since then, I have experienced 2-3 hard shifts (2 of those might have been "mini" shift flares). Each time, I was pushing it rather aggressively. The most common problem that occurs every 2-3 days is a delay when shifting from Park to Drive before actual engagement. If I avoid hitting the gas immediately after throwing in Drive, I've been able to avoid a harsh engagement.

After the first two steps, I saw about a 70% improvement, with some hard shifts, especially after heavy stop-and-go traffic, and fewer, shorter and much less intense flaring. The software update took car of the rest. I read that the TCM update adjusts the shift profile to be in the optimal part of the torque curve more often, for T5s especially (Drive Line - Howard's Volvo Maintenance), and after the update, I noticed the TCM tended to let the engine rev higher before shifting (around 2400 rpm, as Howard's Volvos says). 

While I don't consider this a permanent fix, I believe it will last me a year or two until I can afford to completely replace the transmission if I choose.

I highly recommend doing these procedures. You will almost definitely see an improvement. If the transmission has suffered physical damage as a result of flaring, there's nothing you can do to repair it short of a rebuild or replacement. The unknown variable in my situation was how much, if any, physical damage had been done. While I suspect it has been damaged some, it's at least drivable now.
4.1 Thank You
A special thanks to everyone on this website for all the great tips and suggestions. I would, in all likelihood, be getting an expensive transmission replacement right now, if I hadn't had this resource. I hope this post returns part of the favor. If you have a specific question or need clarification, please don't hesitate to post or contact me directly.

Also, thanks to the larger online Volvo community. It's great to now be a fellow Volvo owner, despite the headaches. 
4.2 Responses Welcome
I know I have most likely left out valuable information or made suggestions others would disagree with. I welcome comments. Please just be sure to note the section number in your response so others can cross-reference the information as easily as possible.

5.0 Resources


This list is by no means exhaustive.
5.1 Websites

AV Lubricants
. Distributor of Mobil ATF 3309. Based in OH.
Petroliance DBA AV Lubricants-Your ExxonMobil Oil Distributor!

Howard's Volvo Maintenance: Transmission Issues. Provides a lot of useful advice and solid explanations on the transmission issues discussed here.
Drive Line - Howard's Volvo Maintenance

ipd (ipdusa.com). A Volvo parts supplier based in Portland, OR. Good selection of aftermarket and OEM parts. Very helpful instructions provided with some parts. Good explanations in some product descriptions. Trustworthy and helpful.
Volvo Parts, Accessories and Performance Specialist Since 1963

ipd: Haynes Repair Manual.
Haynes Shop Manual - UK Edition

Wikipedia. "Geartronic." Background info.
Geartronic - Wikipedia, the free encyclopedia

Wikipedia. "List of Aisin transmissions." Background info.
List of Aisin transmissions - Wikipedia, the free encyclopedia
5.2 Volvo Forums

"S60 T5 transmission slipping." My original post on this issue.
S60 T5 transmission slipping
"01 S60 Transmission."
S60 T5 transmission slipping

"2001 S60 T5 Transmission ?."
2001 S60 T5 Transmission ?

"2001 S60 TRANSMISSION ADVICE."
2001 S60 TRANSMISSION ADVICE

"2001 S60 Transmission fluid change."
2001 S60 Transmission fluid change

Read more...

Life’s Little Instruction Book (30 pics)

Saturday, January 4, 2014

The instructions mentioned in this book are priceless!

Life’s Little Instruction Book (30 pics)

Read more...

Nothing is solid: This is the world of Quantum Physics.

Friday, December 27, 2013

Nothing is solid: This is the world of Quantum Physics.

Nobel Prize winning physicists have proven beyond doubt that the physical world is one large sea of energy that flashes into and out of being in milliseconds, over and over again.

Nothing is solid.

This is the world of Quantum Physics.

They have proven that thoughts are what put together and hold together this ever-changing energy field into the ‘objects’ that we see.

So why do we see a person instead of a flashing cluster of energy?

Think of a movie reel.

A movie is a collection of about 24 frames a second. Each frame is separated by a gap. However, because of the speed at which one frame replaces another, our eyes get cheated into thinking that we see a continuous and moving picture.

Think of television.

A TV tube is simply a tube with heaps of electrons hitting the screen in a certain way, creating the illusion of form and motion.

This is what all objects are anyway. You have 5 physical senses (sight, sound, touch, smell, and taste).
Each of these senses has a specific spectrum (for example, a dog hears a different range of sound than you do; a snake sees a different spectrum of light than you do; and so on).

In other words, your set of senses perceives the sea of energy from a certain limited standpoint and makes up an image from that.

It is not complete, nor is it accurate. It is just an interpretation.

All of our interpretations are solely based on the ‘internal map’ of reality that we have, and not the real truth. Our ‘map’ is a result of our personal life’s collective experiences.

Our thoughts are linked to this invisible energy and they determine what the energy forms. Your thoughts literally shift the universe on a particle-by-particle basis to create your physical life.

Look around you.

Everything you see in our physical world started as an idea, an idea that grew as it was shared and expressed, until it grew enough into a physical object through a  number of steps.

You literally become what you think about most.

Your life becomes what you have imagined and believed in most.

The world is literally your mirror, enabling you to experience in the physical plane what you hold as your truth … until you change it.

Quantum physics shows us that the world is not the hard and unchangeable thing it may appear to be. Instead, it is a very fluid place continuously built up using our individual and collective thoughts.

What we think is true is really an illusion, almost like a magic trick.

Fortunately we have begun to uncover the illusion and most importantly, how to change it.
What is your body made of?

Nine systems comprise the human body including Circulatory, Digestive, Endocrine, Muscular, Nervous, Reproductive, Respiratory, Skeletal, and Urinary.

What are those made up of?

Tissues and organs.

What are tissues and organs made of?

Cells.

What are cells made of?

Molecules.

What are molecules made of?

Atoms.

What are atoms made of?

Sub-atomic particles.

What are subatomic particles made of?

Energy!

You and I are pure energy-light in its most beautiful and intelligent configuration. Energy that is constantly changing beneath the surface and you control it all with your powerful mind.

You are one big stellar and powerful Human Being.

If you could see yourself under a powerful electron microscope and conduct other experiments on yourself, you would see that you are made up of a cluster of ever-changing energy in the form of electrons, neutrons, photons and so on.

So is everything else around you. Quantum physics tells us that it is the act of observing an object that causes it to be there where and how we observe it.

An object does not exist independently of its observer! So, as you can see, your observation, your attention to something, and your intention, literally creates that thing.

This is scientific and proven.

Your world is made of spirit, mind and body.

Each of those three, spirit, mind and body, has a function that is unique to it and not shared with the other. What you see with your eyes and experience with your body is the physical world, which we shall call Body. Body is an effect, created by a cause.

This cause is Thought.

Body cannot create. It can only experience and be experienced … that is its unique function.

Thought cannot experience … it can only make up, create and interpret. It needs a world of relativity (the physical world, Body) to experience itself.

Spirit is All That Is, that which gives Life to Thought and Body.

Body has no power to create, although it gives the illusion of power to do so. This illusion is the cause of much frustration. Body is purely an effect and has no power to cause or create.

The key with all of this information is how do you learn to see the universe differently than you do now so that you can manifest everything you truly desire.

Source: John Assaraf

Read more...

backlink

Free Automatic Backlink

Followers

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP